Dewa Cinta

Pendidikan Seks untuk Anak? Segera Berikan!

Posted on: Juni 4, 2009

Pendidikan Seks Anak

PERKEMBANGAN teknologi membuat seks tidak dianggap sakral lagi. Penemuan alat kontrasepsi oleh AS kemudian memicu revolusi seks di tahun 1960-an. Paradigma pun berubah. Seks dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Akibatnya pergaulan seks bebas pun marak.

Imbasnya juga dirasakan di Indonesia. Perubahan pandangan terhadap seksualitas terjadi sejak awal tahun 1980-an. Hal ini juga mengakibatkan perubahan dalam perilaku seksual termasuk di kalangan remaja.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan pandangan dan perilaku seksual tersebut. Contohnya, perkembangan iptek seperti internet, semakin longgarnya pengawasan dan perhatian orangtua dan keluarga akibat kesibukan, pola pergaulan yang semakin bebas dan lepas (sementara orangtua mengizinkan), lingkungan yang makin permisif, semakin banyak rangsangan seksual yang berasal dari luar dan fasilitas yang mendukung.

Aborsi Meningkat

Hubungan seksual pun kemudian bukan lagi menjadi sesuatu yang sakral. “Ironisnya, mereka tidak mendapat pendidikan seksual yang benar dan cukup. Bahkan mereka dihambat untuk menerima pendidikan seksual yang benar dan bertanggung jawab,” ujar Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FACCS, dengan nada geram. Sayangnya, reaksi penolakan cukup kuat. Alasannya, antara lain karena pendidikan seks bukan budaya Indonesia, melainkan budaya Barat.

Sebenarnya, saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden, salah satu pernyataannya yang sangat simpatik dan menunjukkan pengetahuan dan wawasan luas ialah “setuju pendidikan seks diberikan di sekolah”. Sayang, kata Prof. Wimpie, setelah Gus Dur lengser, persetujuan dilupakan dan lenyap ditelan waktu.

Tidak aneh bila timbul akibat yang dengan mudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah.

Lalu penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi.

Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan, dari responden pelajar SMP diketahui 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Akibatnya, makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).

Sebagai catatan, angka kejadian aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “Dan 20 persen di antaranya adalah remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini. Tindakan aborsi bisa menimbulkan bahaya, sekalipun dilakukan oleh dokter, meski tidak seberat seperti yang timbul akibat aborsi oleh tenaga tidak profesional.
“Perdarahan dan infeksi setelah aborsi mungkin saja terjadi, seperti juga robekan rahim. Tidak sedikit wanita yang mengalami kemandulan akibat infeksi setelah mengalami aborsi,” tambah Prof. Wimpie.

Informasi Keliru

Untuk itu, lanjut Kepala Bagian Andrologi di FK Universitas Udayana ini, pendidikan seks tidak bisa ditunda lagi. Tak hanya dari orangtua, tetapi juga pendidikan di sekolah. “Harus ada sekolah yang memeloporinya,” katanya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Pelita Harapan, Globe Asia, dan Kemang Village beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia melihat, pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah.

Pendidikan seks sebenarnya berarti pendidikan seksualitas. “Suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas,” tambahnya. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologik, orientasi, nilai sosiokultur dan moral, serta perilaku.

Sesuai dengan kelompok usia berdasarkan perkembangan hidup manusia, maka pendidikan seks dapat dibagi menjadi pendidikan seks untuk anak prasekolah dan sekolah, pendidikan seks untuk remaja, untuk dewasa pranikah serta menikah.

Pendidikan seks untuk anak-anak bertujuan agar anak mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi anak. Pendidikan seks untuk anak pra sekolah lebih bersifat pemberian informasi berdasarkan komunikasi yang benar antara orangtua dan anak.

Pendidikan seks untuk remaja bertujuan melindungi remaja dari berbagai akibat buruk karena persepsi dan perilaku seksual yang keliru. Sementara pendidikan seks untuk dewasa bertujuan agar dapat membina kehidupan seksual yang harmonis sebagai pasangan suami istri.

Sejak Bayi

Tanpa orangtua sadari, seksualitas anak berkembang sejak dini. Coba perhatikan bayi. Bayi menyusu karena dia merasa nikmat. Pada masa itu pusat kenikmatan berada di mulut atau oral. Sejalan usia, makin berkembang otot-ototnya sehingga anak senang dipeluk, ditimang. Di masa itu pusat kenikmatan ada di otot. Bila perkembangannya terhambat, mereka akan mengalami masalah seksual.

Namun, banyak orangtua yang tidak sanggup memberikan pendidikan seks di rumah. Alasannya, mereka tidak tahu apa yang harus dan layak disampaikan, mereka tidak tahu bagaimana harus mulai berbicara perihal seks, dan banyak orangtua beranggapan, sesuatu yang berkaitan dengan seks itu porno dan tabu.

Itu sebabnya, saat orangtua ditanya anak tentang seks umumnya tidak dapat berbicara, menjawab dengan marah, mengganggap anak tidak sopan sehingga mematahkan keingintahuan anak tentang seks yang ia rasakan.
Kalau orangtua malu atau tabu dalam memberikan pendidikan seks, bagaimana anak bisa memahami permasalahan itu dengan baik? Anda tentu tidak ingin putra putri yang beranjak remaja mendapat PMS, terinfeksi HIV, atau melakukan hubungan seksual pranikah. Jangan sampai masa depan mereka terenggut karena kehamilan pranikah atau kehamilan yang tidak diinginkan, yang bisa berlanjut pada aborsi, bahkan dapat berujung pada kematian.

Dibarengi Pendidikan Moral

Untuk mencegah dan menanggulangi akibat yang mungkin timbul karena perubahan pandangan dan perilaku seksual remaja, Prof. Wimpie mewanti-wanti orangtua untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Perhatian dan pengawasan orangtua harus diberikan secara memadai, termasuk dalam hal seksualitas. Tentu mutlak dituntut contoh nyata orangtua dalam hidup sehari?hari.
  • Bekali remaja dengan pengetahuan seksualitas yang benar dan bertanggung jawab.
  • Remaja perlu mendapat pendidikan moral dan agama yang relevan dengan kehidupan mereka.
  • Ingatlah bahwa seksualitas berkembang sejak masa bayi, bahkan di dalam kandungan. Seharusnya perhatian orangtua tentang seksualitas anaknya sudah diberikan sejak dini, tidak hanya setelah remaja.
  • Berikan lingkungan yang bersih dari unsur seksual yang bersifat merangsang dan merugikan remaja. Ini tidak mudah karena banyak faktor dan pihak terlibat.
  • Kegiatan positif perlu disediakan bagi remaja agar mereka terlibat aktif di dalamnya, sehingga tidak larut dalam rangsangan seksual yang merugikan.
  • Semua pihak yang terlibat dalam penanganan masalah seksual remaja hendaknya meningkatkan tanggung jawabnya, sehingga usaha yang dilakukan tidak malah mendorong remaja untuk makin berani tenggelam dalam aktivitas seksual yang tidak sehat, yang dapat menimbulkan dampak buruk lebih jauh.
  • Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan aktivitas seksual, usahakan agar menghentikan aktivitas yang membangkitkan dorongan seksual sehingga tidak berlanjut menjadi hubungan seksual.
  • Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan hubungan seksual, berupayalah untuk menghentikan. Kalau tidak mampu menghentikan, cegah agar tidak terjadi kehamilan dan tidak terjadi penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).
  • Kalau timbul gangguan atau masalah seksual, yang menyangkut segi biologis, fisiologis, dan psikoseksual, segeralah berkonsultasi dengan tenaga ahli.

Prof. Wimpie memberikan cara sederhana untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anak.

  • Berbicaralah dengan cara yang wajar, seperti berbicara tentang hal yang lain.
  • Hindari gaya seperti mengajar di sekolah.
  • Pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas pada fakta biologis, melainkan juga tentang nilai, emosi, dan jiwa.
  • Jangan khawatir Anda telah menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang apa yang mereka tidak mengerti.
  • Anak-anak usia prasekolah juga perlu tahu bagaimana melindungi diri dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini berarti bahwa orangtua harus memberitahu anak bahwa mangatakan “tidak” kepada orang dewasa bukanlah sesuatu yang dilarang.
  • Jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang terjadi pada masa sebelumnya.
  • Berilah suasana dan kesempatan agar anak merasa bebas dan aman mengajukan pertanyaan tentang seksualitas.
  • Andaikata orangtua tidak dapat menjawab pertanyaan anak, jangan malu mengatakan “tidak tahu”. Kemudian mintalah bantuan atau penjelasan dari orang lain yang mengetahui.
  • Setelah berbicara atau menjawab pertanyaan anak, ujilah apakah jawaban itu memang telah dimengerti. Berilah kesempatan kepada anak untuk menanyakan lagi kalau kemudian muncul pertanyaan baru.
  • Kehidupan seksual orangtua sangat diperlukan sebagai contoh nyata bagi anak ketika berbicara tentang seksualitas. (ma/Gaya Hidup Sehat)

Source: Tribun In KELUARGA, SEKSOLOGI on 14 Maret 2008 at 3:46 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 372,555 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: