Dewa Cinta

Arti Cinta menurut KCB

Posted on: Juni 17, 2009

Cinta adalah kekuatan, yang mampu mengubah duri jadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, mengubah sedih jadi riang, mengubah amarah jadi ramah, mengubah musibah jadi hibah.

itulah cinta…..

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan, namun tanpa lidah cinta ternyata lebih keram, sementara pena begitu tergesa-gesa menulisaknnya.

Kata-kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada cinta, dalam menguraikan cinta akal terbaring tak berdaya bagaikan keledai terbaring dalam lumpur. cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan…

[Definisi Menurut Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB)].

————————

Anda tertarik tuk baca novelnya?

Download: Ketika Cinta Bertasbih Episode 1; Ketika Cinta Bertasbih Episode 2

———————-

Mesir, jadi latar cerita cinta Azzam dalam usaha menemukan jodohnya. Azzam (Kholidi Asadil Alam), mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, yang ulet,pekerja keras, serta berbakti kepada keluarga. Sambil menjalankan studinya, Azzam harus banting tulang, dan menguras keringat dengan berjualan tempe dan bakso yang dipasarkan di lingkungan KBRI di Mesir. Semua dilakukan agar bisa melanjutkan hidupnya di Kairo dan menghidupi ibu serta adik-adik perempuannya di Indonesia karena sebagai anak tertua, Azzam harus bertanggungjawab terhadap keluarganya lantaran sang ayah telah meninggal dunia.

Lantaran terlalu fokus terhadap wirausaha yang ia tekuni, kuliahnya terhambat selama beberapa tahun. Seringnya dia bergaul di KBRI membuat Azzam mengenal Eliana (Alice Norin), putri semata wayang Duta Besar Indonesia di Mesir. Eliana adalah perempuan modern yang menyelesaikan kuliah di Perancis, kemudian melanjutkan studi S-2 nya di Kairo.

Perempuan yang penampilan dan berpikir modern itu sarat segudang prestasi. Karakternya kuat dan bernyali besar menyuarakan isi kepalanya. Azzam pun sempat dibuat kaget dengan sikap blak-blakan dari Eliana. Tetapi, Azzam tersadar Eliana bukanlah perempuan yang pantas mendampinginya. Sampai berita tentang seorang bidadari datang menghampirinya. Perempuan cantik itu bernama, Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi), putri Kiai Pesantren Daarul Quran yang sangat disegani.

Azzam jatuh hati begitu mendengar semua prestasi dan kepribadian Anna lewat seorang rekannya di Kairo. Berangkatlah Azzam menemui Ustad Mujab (Habiburrahman El Shirazy). Kepada Ustad Mujab, Azzam menyampaikan maksudnya mengkhitbah (meminang) Anna.

Sayang, Anna ternyata telah dikhitbah terlebih dahulu oleh Furqan, sahabat Azzam sendiri. Selain itu, dikarenakan oleh status sosialnya, Azzam ditolak untuk mengkhitbah perempuan secemerlang Anna.

Furqon dikenal karena dengan ketampanannya. Ia pemuda yang pintar, dan selalu berpikiran rasional. Bukan hanya mahasiswi Indonesia saja, mahasiswi Mesir, dan negara lain juga tertarik padanya. Furqan yang orangtuanya sangat kaya di Indonesia itu sedang merampungkan tesisnya.

Kehidupan Furqan sangat berbeda juah dengan Azzam yang harus kerja keras demi mencapai cita-citanya dan menghidupi ibu dan adik-adiknya. Furqan jauh diatasnya, hidup bergelimangan sehingga membuatnya lupa dan terlalu berlebihan dalam menggunakan pemberian Allah, sehingga menjadi batu sandungan buat hidupnya kelak. Ia dijebak seorang perempuan sindikat pemeras, yang menjadi awal sejarah terbentuknya virus mematikan, HIV AIDS. Virus mematikan itu membuatnya tak mampu merasakan bahagia ketika lamarannya diterima Anna.

Ada juga kisah cinta dua insan Fadhil (Lucky Perdana) dan Tiara (Tika Putri) yang terpisahkan oleh ego dan emosi sesaat, yang menjerumuskan mereka kedalam siksa penyesalan dunia.

Ketika Cinta Bertasbih (KCB) adalah film Indonesia pertama yang berhasil syuting di Mesir. Film yang diangkat dari novel bestseller, Ketika Cinta Bertasbih ini juga menandakan kembalinya sutradara besar di tanah air, Chaerul Umam. Sejumlah tempat bersejarah di Mesir, seperti Al Azhar University, kampus tertua di dunia, Benteng Qaitbay di Alexandria, Taman El Montaza, berlatar istana Raja Farouq, serta sejumlah mesjid tertua di belahan bumi Afrika, menjadi latar indah yang memesona.

Di tengah gempuran film-film horor dan komedi seks, Ketika Cinta Bertasbih menghadirkan kesejukan di jagad perfilman Indonesia.

Hal-hal baru sering kali membuat sesuatu terasa fresh dan berbeda. Prinsip inilah yang dianut Habiburrahman El Shirazy, Deddy Mizwar, Neno Warisman, Didi Petet, dan sutradara veteran Chaerul Umam. Mereka berada-ada membuat audisi di beberapa kota besar, menjaring puluhan bakat muda, kemudian dimampatkan menjadi lima bintang baru di industri hiburan. Terobosan besar ini disertai gunjingan sinis terkait kapabilitas akting newcomer terpilih. Belum lagi, keikutsertaan beberapa bintang kondang yang mewarnai proses audisi. Masih ditambah wacana beberapa pesinetron favorit Dude Harlino sebagai Azzam. Semua terjawab tahun lalu. Pilihan jatuh kepada Kholidi Asadi Alam, Tak perlu nama beken untuk menaikkan pamor film. Tanpa mengganti nama, toh sifat kalem dan gaya hidup lurus-lurus ajah diyakini masih menjadi jurus jitu.

Benar saja, bersama tiga newcomer lainnya (plus satu nama kondang, Alice Norin) digadang-gadang sanggup memesan tiket box office tahun ini. Itu baru satu dari sekian banyak unsur. Berkaca dari pengalaman pendahulunya yang mampu mendatangkan ibu-ibu pengajian “mengaji” di bioskop sembari bercucuran air mata, Chaerul Umam dan SinemArt melihat celah yang belum berani diterobos produser tetangga, lokasi syuting. Tengok saja poster film ini yang dibanderol “dijamin Mesir asli”. Sebuah taktik promo yang diantarkan lugas, apa adanya. Pencarian lokasi syuting di Negeri Cleopatra dimulai 16-26 April. Sementara pengambilan gambar dimulai 31 Oktober hingga 22 hari berikutnya. Umam tak sendiri. la dan kru dikawal rumah produksi lokal Mesir, Mr Mohamed Ashoob’s Company. Itu masih ditambah beberapa scene di Yogyakarta, Surakarta, Magelang, Jakarta, dan kota-kota lain.

Azzam (Kholidi) mahasiswa Universitas Al-Azhar. Sembilan tahun ia kuliah. Bukannya malas, Azzam harus menghidupi adik dan ibunya di Solo, la memutar otak untuk menghasilkan uang dengan berjualan tempe dan bakso. Tempe khas Azzam membuatnya dikenal banyak orang, termasuk selebriti sekelas Eliana (Alice). Di sisi lain, ia mulai berpikir tentang pasangan. la mendengar nama Anna (Oki) dan segala reputasi baiknya. Meski belum pernah bertemu, Azzam memberanikan diri menghadap Ustad Mujab agar didekatkan dengan Anna. Sayangnya, Anna sudah didekati Furqan (Andi), sahabatnya sendiri. Furqan pria kaya berproblem pelik. Sebenarnya, tinggal selangkah lagi ia menuntaskan gelar sarjana.

Dalam perjuangannya menuju ujian akhir, Furqan dikerjai cewek labil. Miss Italiana. Penjahat kelas kakap pengidap HIV yang menularkan virusnya kepada 80 persen (lebih) korbannya. Mendekati hari pernikahannya dengan Anna, fakta medis itu sampai ke telinga Furqan. Cukup sampai di sini, dan Anda akan dibuat kaget ending-nya. Dua jam lebih menyimak penggalan panjang kehidupan Azzam, penonton akan dihadapkan pada banyak karakter penting yang layak dikenali. Patut pula disadari, KCB menelan biaya produksi terbesar dalam sejarah film Indonesia. Dibutuhkan sponsor guna memuluskan perjalanan Azzam. Sponsor dengan segenap konsekuensi logisnya. Ekpektasi masyarakat tentu sebesar bujetnya. Impian disuguhi panorama aduhai piramida hingga menyusuri pantai Alexandria sudah sampai ke ubun-ubun. Terjawabkah harapan penonton?

Begini, Mesir aset kunci film ini. Karena sejak awal kabar pembuatan film KCB diembuskan, lokasi syuting sesuai novel santer didengar orang. Dan benar, beberapa adegan kunci terjadi di Mesir. Selebihnya, negeri itu menjadi background yang tak bisa ditawar lagi. Umam tidak hanya diselamatkan seting, tapi juga skenario Imam Tantowi (sutradara epic Saur Sepuh-red). Meski susunan dialog-nya khas ’90-an, Imam terbilang cermat menyematkan dialog-dialog kelakar, Separuh perjalanan terlewati, Anda akan terkesima betapa Azzam figur mandiri dan gigih mencari cinta sejati. Akhirnya, Anda pun tahu, Kholidi berhasil mendekati Azzam dengan akting tidak pas-pasan.

(BINTANG INDONESIA, Edisi 944, II Juni 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 372,555 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: